Akses Vaksin Covid-19 Belum Merata, Negara G20 Sepakat Bantu Suplai Vaksin

- Jumat, 26 November 2021 | 00:02 WIB
Ilustrasi Vaksin Merah Putih.  (Shuterstock/Tangkapan Layar)
Ilustrasi Vaksin Merah Putih. (Shuterstock/Tangkapan Layar)

HALLOTERNATE.COM - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa pemulihan terjadi secara tidak merata di seluruh dunia, salah satunya dalam akses dan distribusi vaksin.

Hal tersebut menimbulkan ancaman mutasi baru yang dapat mengancam proses pemulihan ekonomi.

“Saat ini, dunia sebetulnya sudah bisa memproduksi vaksin yang cukup untuk seluruh dunia divaksinasi di atas 50 persen, namun distribusinya tidak merata. Di negara-negara maju bisa di atas 70 persen sementara negara-negara berkembang atau negara miskin di bawah 40 persen. Waktu di Roma kemarin, bahkan ada negara yang baru 5 persen atau di bawah 10 persen populasinya divaksin,” kata Menkeu, seperti dikutip dari laman Kemenkeu, Kamis 25 November 2021.

Baca Juga: Anggaran Rp 226 Triliun Masih Mengendap di Bank, Presiden Jokowi Ingatkan Daerah Percepat Penyerapan Anggaran

Maka dari itu, negara-negara G20 sepakat untuk membantu suplai vaksin Covid-19 untuk negara-negara miskin dan berkembang yang masih belum mendapatkan akses vaksin.

Indonesia sebagai tuan rumah sekaligus Presidensi dari G20 akan mendorong kolaborasi global di dalam rangka untuk pemulihan ekonomi secara bersama dan lebih kuat, sesuai tema Presidensi G20 “Recover Together, Recover Stronger”.

“Pemulihan ekonomi dunia, terutama pada saat Covid sendiri belum selesai tidak merata. Terjadi ketidakmerataan akibat akses dari vaksin dan kemudian munculnya komplikasi seperti disrupsi dari sisi supply side dan juga inflasi, serta kenaikan harga komoditas. Ini tentu menjadi tantangan yang besar untuk mendesain suatu pemulihan ekonomi bersama,” ujar Menkeu.

Baca Juga: Anggotanya Bawa Sajam saat Aksi, Begini Tanggapan Sekjen MPN Pemuda Pancasila

Di dalam pertemuan G20, para pimpinan negara, menteri keuangan, hingga bank sentral akan membahas bersama tantangan pemulihan ekonomi dan bagaimana cara mengatasinya. Misalnya, exit policy, scaring effect, financial technology, sustainable finance, perpajakan global, dan juga perubahan iklim.

“Ini adalah topik-topik yang luar biasa penting di mana Presidensi Indonesia diharapkan akan bisa menciptakan suatu lingkungan, tidak hanya pembahasan, tapi kolaborasi dan agreement untuk hal-hal yang kemudian membuat negara-negara ini mau berkolaborasi,” kata Menkeu.***

Halaman:

Editor: Yahya Konoras

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ini Sejumlah Aset Eks BLBI yang Dilakukan Serah Terima

Jumat, 26 November 2021 | 00:10 WIB

Tanam Jagung di Jeneponto, Jokowi: Tidak Usah Impor Lagi

Selasa, 23 November 2021 | 21:06 WIB

Masyarakat Diminta Tidak Terprovokasi Isu Pembubaran MUI

Minggu, 21 November 2021 | 21:08 WIB

Habib Bahar Bin Smith Akhirnya Bebas Murni Hari Ini

Minggu, 21 November 2021 | 14:23 WIB

PCR Covid-19 Berpotensi Turun Harga

Selasa, 9 November 2021 | 19:54 WIB
X